Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Habib Seggaf bin Mahdi bin Syekh Abu Bakar bin Salimeliau adalah pembimbing besar kepada banyak santri untuk senantiasa cinta pada Allah dan Rasul-Nya. Habib yang periang, bersahabat, penuh dengan senyum, dan tak pernah membeda-bedakan siapa saja yang beliau temui.

Lahir

Habib Saggaf bin Mahdi lahir di Dompu Nusa Tenggara Barat ( NTB ) Tanggal 15 Agustus 1945.
Habib Saggaf bin Mahdi meninggal dunia pada Jum’at, 12 November 2010 M / 5 Dzhulhijjah 1431 H Pada Pukul 09.15 WIB.
Berawal dari kalimat “NANTI kamu jadi ulama besar dan kaya raya. Kamu masuk pondok saja. Berangkatlah tawakkaltu,” demikian nasihat Habib Soleh bin Ahmad bin Muhammad al-Muhdhar ulama besar dari Bondowoso, Jawa Timur usai ‘meneliti’ kaki Saggaf bin Mahdi yang masih berusia 14 tahun. Namun Saggaf muda masih ragu. Pasalnya sejak kecil ia tak pernah mondok. “Kepala seperti mau pecah mendengar perintah itu. Tapi saya pergi juga ke Pesantren Darul di Malang,” kenang Habib Saggaf, panggilan akrab Habib Saggaf bin Mahdi bin Syeikh Abu Bakar.

Di depan pintu ponpes, Saggaf diterima pendiri Darul Hadits, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al Alawy. “Kamu musti belajar baca al-Qur’an,” kata Habib Abdul Qadir seraya memegang kuping Saggaf. Sontak, sakit kepala dan keraguan Saggaf hilang. “ saya terbuka. Ini guru saya. Apa pun yang terjadi, saya harus belajar di sini,” tekad Saggaf muda. Saggaf pun menempuh pendidikan di sana dengan cemerlang. “Saya menjadi santri hanya 2 tahun 7 bulan dan langsung ngajar fiqh dan nahwu. Saya di sana 13 tahun,” kenangnya.

Sepulang dari Malang, Saggaf berguru ke Masjid Sayyidina Abbas di Aljazair selama 5 tahun dan i’tikaf di Makkah selama 5 tahun. Saggaf juga memperdalam tareqat di Irak. Namun ia harus kembali ke Tanah Air. Guru tarekatnya yang beraliran Syadziliyah, merekomendasikannya belajar tareqat di Mranggen, Kabupaten Demak ke Syekh Muslih Abdurrahman. “Karena tareqat Syadziliyah agak sulit di Indonesia, maka saya disuruh ke Mranggen yang beraliran Qadiriyyah. Syekh Muslich Mranggen itu guru tareqat saya,” ungkap Saggaf kepada Gamal Ferdhi dan Ahmad Suaedy dari the WAHID Institute. Dia pun lantas kembali ke Dompu, Propinsi Nusa Tenggara Barat untuk mendirikan Ponpes Ar-Rahman. Tak lama berselang, Saggaf pindah ke Parung Bogor mendirikan Ponpes al-’Ashriyyah Nurul Iman. Sebelum ke Parung, Saggaf mendirikan Ponpes Nurul Ulum di Kali Mas Madya, Surabaya, yang banyak menerima murid dari Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam dan Afrika.

Sejak itu, undangan ceramah banyak datang dari negara tetangga. Ratusan ribu jama’ah selalu memadati majelisnya di Singapura. “Bukan hanya orang Melayu dan , orang Cina, India, , Hindu dan lain-lain, telah memenuhi stadion Singapura sejak sore.” Ujar beliau.Kepandaian beliau menguasai Qiraah Sab’ah (bacaan al-Quran dengan riwayat tujuh imam) membuatnya ditunggu majelisnya di Singapura. Namun kepandaiannya itu juga yang mengakibatkan Mufti Singapura menuduh beliau mengutak-atik bacaan al-Quran.

“Saya dituduh merusak al-Quran. Akibatnya Pon-Pes saya yang di Surabaya disegel Depag dengan alasan takut bentrok antara Indonesia dengan Singapura. Tanah seluas 5 ha di Sekupang, Batam yang diberi pemerintah juga ditarik kembali.” Ungkapnya mengenang peristiwa di awal 1980-an itu.
Sosok yang senantiasa berjubah putih ini memiliki komitmen yang kuat untuk kemajuan dunia pendidikan. Cita-citanya dalam mewujudkan pendidikan gratis adalah mimpi yang menjadi kenyataan di tengah kondisi bangsa yang terpuruk akibat krisis moneter di tahun 1998. Bagi Abah, jawaban tepat atas semua kekacauan yang terjadi pada bangsa ini adalah pendidikan. Pendidikan yang baik akan melahirkan SDM yang tangguh, profesional dan berkualitas, sehingga ke depan masyarakat Indonesia akan menjadi masyarakat yang memiliki kemampuan untuk mengelola secara baik dan bertanggung jawab atas setiap potensi yang Allah karuniakan pada bangsa ini.

Beliau pun pindah ke Jakarta. Di Ibukota, Habib Saggaf pun menghidupkan majelis di Masjid Agung Bintaro. Munculnya krisis sosial-politik pasca jatuhnya Soeharto pada 19 Juni 1998, membuat Habib Saggaf memutuskan untuk pindah ke daerah Parung, Bogor -tepatnya di Desa Waru Jaya- yang lebih tenang dibanding Jakarta. Beliau menempati sebuah rumah pemberian Bapak Gembong bersama sang istri tercinta yaitu Umi Waheeda binti Abdurrahman.

Seluruh hidupnya adalah pengabdian untuk dunia pendidikan. Komitmennya yang kuat terhadap pendidikan mencerminkan integritas antara ilmu dan amal. Begitulah seharusnya sosok seorang pendidik, Abah mengamalkan betul apa yang pernah disabdakan oleh Rasulullah, “khoiru man yamsyi fauqal ardli al mualim”, sebaik-baik orang yang berjalan di muka bumi ini adalah guru. Menurut Abah kata “mualim” memiliki makna yang lebih luas dari guru yaitu pendidik, karena seorang pendidik tidak hanya bertanggung jawab pada pengembangan intelektualitas muridnya namun juga bertanggung jawab pada perkembangan seluruh aspek kehidupan muridnya.

Di kalangan santri Al-Ashriyyah Nurul Iman, Abah dikenal sebagai sosok yang tegas dalam menerapkan kedisiplinan. Bagi Abah, tugas santri hanyalah belajar dan belajar, tidak perlu memikirkan biaya pendidikan, makan, listrik, tempat tinggal dan lain sebagainya, semuanya telah difasilitasi oleh Pesantren, tidak ada uang sekolah, uang buku, uang makan, uang asrama ataupun lainnya, semua kebutuhan pokok yang diperlukan santri sudah disiapkan oleh pesantren. Sungguh merupakan model pendidikan yang mensejahterakan, model pendidikan masa depan untuk bangsa, semua itu lahir dari sentuhan emas sosok kharismatik Abah yang betul-betul menjiwai pendidikan.

Menurut Abah, seorang manager pendidikan harus tahu betul apa yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pendidikan. Bangsa kita masih lemah dalam mengatur dan melaksanakan pendidikan, padahal kalau kita mau mengacu pada al-Qur’an dan meneladani ajaran Rasulullah Saw, maka semuanya akan berjalan dengan baik. Berdasarkan keilmuan dan pengalaman serta pengamatan Abah yang memiliki kecintaan yang sangat tinggi terhadap al-Qur’an, perpaduaan antara model pendidikan dalam negeri dan model pendidikan luar negeri, antara keilmuan umum dan keilmuan yang saling melengkapi saat ini diterapkan di Pondok Pesantren Al-Ashriyyah Nurul Iman. Selain itu, sarana dan prasarana pendukungpun dilengkapi sedemikian rupa, mulai dari ruang kelas laboratorium, dan program-program pengembangan ekstra dan intra kurikuler yang lengkap, perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan harus dilakukan secara menyeluruh dalam dunia pendidikan. Sebagai sistem, pendidikan harus diselenggarakan secara utuh agar tidak terjadi kesenjangan yang bisa mengabaikan tujuan dan fungsi pendidikan.

Habib Saggaf juga terus menanamkan toleransi antar pemeluk agama di negeri ini. Karenanya, ia menyayangkan aksi kekerasan sekelompok orang dengan mencatut Islam. “Akibatnya Islam dipandang salah. Orang Islam dianggap ‘tukang makan orang,” ujarnya lugas. Selain itu, kata Habib Saggaf, rusaknya citra Islam juga karena ajaran Islam disalahpahami. “Itu, orang-orang yang ngaku mujahid. Mujahid apa itu, berontak di negara orang. Mereka bikin kacau Indonesia. Kalau saya presiden, saya usir mereka. Saya tangkap dan saya suruh tinggal di Arab. Jadi, jika kita ingin memperbaiki, jangan yang sudah rusak dirusak lagi. Itu baru mujahid,” himbaunya.

Untuk itu, ia menghimbau kelompok yang mengusung nama Islam agar menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum. “Ini Indonesia. Ada pemerintah, ada hukum, dan ada polisi. Mereka yang menjaga keamanan. Jika tidak melalui jalur hukum, berarti ingin mendirikan negara dalam negara. Tapi pemerintah juga salah, kok orang-orang kayak begitu (anarkis, Red) dibiarkan. Mereka itu bisa merusak Indonesia,” tandasnya.

Sang istri, Umi Waheeda, adalah seorang wanita keturunan Indonesia yang lahir di Singapura pada 14 Januari 1968, beliau datang ke Indonesia dan mondok di Pon-Pes Nurul Ulum pada tahun 1987. Setahun kemudian beliau bertemu dengan Habib Saggaf dan menikah tepatnya pada tahun 1988. Bersama sang istri, Habib Saggaf mulai merintis pesantren di daerah Parung. Habib Saggaf adalah seorang yang berlatar belakang pendidikan pesantren, sedangkan Umi Waheeda berlatar belakang pendidikan formal, lulusan Sekolah Tinggi Singapura fakultas English Literature atau Sastra Inggris, S1 di Universitas Indonesia jurusan Psikologi dengan menyandang predikat cumlaude, S2 di London School of Public Relations sebagai best student dan mendapat penghargaan High Distinction Award. Sekarang beliau melanjutkan pendidikan Doktoralnya di jurusan Psikologi Islam, Universitas Islam Negeri Jakarta.

Ternyata, imbas krisis ekonomi yang berpusat di ibu kota terasa sampai ke Desa Waru Jaya. Hal itu memicu Habib Saggaf bersama Umi untuk mengumpulkan anak-anak sekolah di rumahnya.”Sebelum sekolah mereka makan nasi ketan di rumah. Tiap anak saya kasih uang jajan Rp 250,00. Dan tiap keluarga kita bagi beras 5 kg,” kata beliau.

Pada 1999, datanglah seorang santri asal Wonogiri, Solo, bernama Prawoto Suwito. Kedatangannya memberi spirit bagi Habib Saggaf dan Umi untuk mendirikan Pon-Pes yang kemudian diberi nama al-Ashriyyah Nurul Iman. Kian lama Pon-Pes ini kian besar, hingga sampai saat ini memiliki kurang lebih 23.000 santri. Selain beribadah dan belajar, Pon-Pes al-Ashriyyah Nurul Iman juga melatih santrinya untuk berwirausaha diantaranya bertani, daur ulang sampah, dan membuat roti.

Diakui Habib Saggaf, ikhtiar ekonomi para santrinya belum cukup untuk menghidupi Pon-Pes terbesar di Bogor itu. Karena itulah, dia menerima beberapa dermawan mensedekahkan hartanya untuk kepentingan Pon-Pes.

“Dua masjid itu sumbangan dari orang yang sama.” Ungkap Habib Saggaf menjelaskan asal-usul dua masjid besar di dalam Pon-Pes. Yang satu berkapasitas 5.000 orang untuk santri putra dan satu lagi, berkapasitas 3.000 orang untuk santri putri.

Tak hanya itu, beberapa perkumpulan agama non-Islam pun turut menyumbang konsumsi, tenaga pengajar, gedung olah raga dan asrama. Jadi, jangan heran jika di depan masjid agung Pon-Pes berdiri gedung Tae Kwon Do seluas 200 m2, sumbangan dari pengusaha Korea Selatan, Park Young Soo. “Guru Tae Kwon Do-nya dari Korea. Kita juga memadukan zafin (Tarian Arab) dengan Tae Kwon Do. Sekarang sedang dipatenkan di Korea Selatan,” jelasnya.

Pon-Pes itu juga memiliki gedung dua lantai, dengan 24 ruang kelas, 2 ruang guru, 32 kamar mandi dan 20 toilet. Pendidikan SMP, SMA dan Sekolah Tinggi diselenggarakan di gedung tersebut. “Gedung ini sumbangan dari Yayasan Buddha Tzu Chi.” Jelasnya.

Asrama tempat bermukim para santri, banyak yang berasal dari infaq orang tua santri dan para donatur. Bahkan salah satu diantaranya adalah sumbangan dari organisasi keturunan India di Indonesia, The Gandhi Memorial Internasional School (GMIS).

Hadirnya beberapa bangunan dari sumbangan komunitas non- itu, menurut Habib Saggaf, karena dirinya tak segan bergaul dengan siapa pun. “Kadang beberapa pendeta tidur di sini untuk mempelajari sistem Pon-Pes ini.” Akunya.
Habib Saggaf juga terus menanamkan toleransi antar pemeluk agama di negeri ini. Karenanya, ia menyayangkan aksi kekerasan sekelompok orang dengan mengatasnamakan Islam. “Akibatnya Islam dipandang salah. Orang Islam dianggap ‘tukang makan orang’.” Ujarnya lugas. Selain itu, titah Habib Saggaf, rusaknya citra Islam juga karena ajaran Islam disalahpahami.
“Itu, orang-orang yang ngaku mujahid. Mujahid apa itu, berontak di negara orang. Mereka bikin kacau Indonesia. Kalau saya presiden, saya usir mereka. Saya tangkap dan saya suruh tinggal di Arab. Jadi, jika kita ingin memperbaiki, jangan yang sudah rusak dirusak lagi. Itu baru mujahid.” Himbaunya.

Untuk itu, beliau menghimbau kelompok yang mengusung nama Islam agar menyelesaikan persoalan melalui mekanisme hukum. “Ini Indonesia. Ada pemerintah, ada hukum, dan ada polisi. Mereka yang menjaga keamanan. Jika tidak melalui jalur hukum, berarti ingin mendirikan negara dalam negara. Tapi pemerintah juga salah, kok orang-orang kayak begitu (anarkis) dibiarkan. Mereka itu bisa merusak Indonesia.” Tandasnya.

Saat ini, estafet kepemimpinan Yayasan Pondok Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman digantikan oleh istri beliau, Ummi Waheeda, pendamping setia almarhum as-Syekh Habib Saggaf bin Mahdi bin Syekh Abi Bakar bin Salim yang wafat pada hari Jum’at, 12 September 2010, sekaligus perintis Yayasan Pondok Pesantren al-Ashriyyah Nurul Iman.

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *



You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>